Pages

Labels

Selasa, 15 Mei 2012

BAB 9 Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBN )

1. Perkembangan Dana Pembangunan Indonesia

   Dilihat dari segi pembangunan, penyusunan APBN sangat diperlukan. Pada dasarnya APBN merupakan rencana keuangan tahunan pemerintahan negara Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. APBN berisi daftar sistematis dan terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun anggaran.
    Secara gari besar APBN terdiri dari pos – pos seperti dibawah ini :





-  Sisi penerimaan, terdiri dari pos penerimaan dalam negeri dan penerimaan pembangunan
-  Sisi pengeluaran terdiri dari pos pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan 


   APBN disusun agar pengalokasian dana pembangunan dapat berjalan dengan memperhatikan prinsip berimbang dan dinamis. Hal tersebut perlu diperhatikan mengingat tabungan pemerintah yang berasal dari selisih antara penerimaan dalam negeri dengan pengeluaran rutin, belum sepenuhnya menutupi kbutuhan biaya pembangunan di Indonesia.
   Meskipun dari PELITA ke PELITA jumlah tabungan pemerintah sebagai pembiayaan pembangunan terbesar terus mengalami peningkatan, namun pengalokasian terhadap pembangunan masih jauh dari apa yang diharapkan. 
    Dengan kata lain, ada ketergantungan dan pembangunan terhadap sumber lain, dalam hal ini pinjaman 
luar negeri masih cukup besar. Namun demikian mulai tahun terakhir PELITA, presentase tabungan pemerintah lebih besar daripada pinjaman luar negeri, dikarenakan peran sektor migas yang pada saat itu lagi dominan ,serta dengan dukungan beberapa kebijakan pemerintah dalam masalah perpajakan dan upaya peningkatan penerimaan negara lainnya.
    Untuk menghindari terjadinya defisit anggaran pembangunan, Indonesia masih mengharapkan dan dari luar negeri, dan meskipun IGGI (Inter Govermmental Group on Indonesia) bukan lagi menjadi forum Internasional yang secara formal membantu pembiayaan pembangunan di Indonesia, namun dengan lahirnya CGI (Consultative Group on Indonesia) kebutuhan pinjaman luar negeri sebagai pelengkap dan pembangunan masih dapat diharapkan. Sebaiknya pinjaman dari luar negeri dijadikan sebagai pelengkap dana pembangunan

2. Proses Penyusunan Anggaran
    Proses penyusunan anggaran dibagi menjadi dua, yakni:


Dari Atas ke Bawah
    Merupakan proses penyusunan anggaran tanpa penentuan tujuan sebelumnya dan tidak berlandaskan teori yang jelas. Proses penyusunan anggaran dari atas ke bawah ini secara garis besar berupa pemberian sejumlah uang dari pihak atasan kepada para karyawan nya agar menggunakan uang yang diberikan tersebut untuk menjalankan sebuah program. Terdapat 5 metode dalam penyusunan secara dari atas ke bawah, yakni:


a. Metode Kemampuan
    Metode dimana perusahaan menggunakan sejumlah uang untuk kegiatan operasional dan produksi, tanpa    
    mempertimbangkan dampak dari pengeluaran tersebut.
b. Metode Pembagian
    Metode ini lebih buruk dari metode yang lain, karena pendistribusian anggarannya tidak memiliki tujuan   
    yang jelas, tidak berdasarkan teori, dan metode ini kurang memperhatikan penyusunan  konsep 
    pendistribusian anggaran.
c. Metode Presentase Penjualan
    Metode ini menggambarkan efek dari yang terjadi antar kegiatan iklan dan promosi yang dilakukan
    dengan presentase penjualan. Metode ini didasarkan oleh 2 hal, yakni presentase penjualan dan sejumlah  
    pengembalian atau efek yang didapat dari aktivitas periklanan dan promosi.
d. Metode Melihat Pesaing.
    Sebuah perusahaan akan berusaha memberikan inovasi terbaru dengan strategi yang bagus agar lebih  
    unggul dari para pesaing nya.
e. Metode Pengembalian Investasi
    Merupakan pengembalian keuntungan yang diharapkan oleh perusahaan terkait dengan sejumlah uang  
    yang telah dikeluarkan untuk iklan dan aktivitas promosi lainnya. Sesuai dengan arti katanya, investasi  
    berarti penanaman modal dengan harapan akan adanya pengembalian modal suatu hari.


Dari Bawah ke Atas
    Merupakan proses penyusunan anggaran berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya dan anggaran ditentukan belakangan setelah tujuan selesai disusun. Terdapat 3 metode dalam penyusunan anggaran secara dari bawah ke atas, yakni:

a.   Metode Tujuan dan Tugas (Objective and task method) 
      Metode ini menegaskan pada penentuan tujuan dan anggaran yang disusun secara beriringan. Terdapat 3 
langkah yang ditempuh dalam metode ini, yakni penentuan tujuan, penentuan strategi dan tugas yang harus  dikerjakan, dan perkiraan anggaran yang dibutuhkan untuk mencapai tugas dan strategi tersebut.

b. Metode Pengembalian Secara Berkala (Payout Planning) 
   Metode ini menggunakan prinsip investasi dimana pengembalian modal diterima pada waktu tertentu.   Selama tahun pertama, perusahaan akan mengalami kerugian dikarenakan biaya promosi dan iklan lebih   besar dari pada keuntungan yang diperoleh. Pada tahun kedua, perusahaan akan mengalami titik impas antara biaya promosi dengan keuntungan yang diperoleh. Tahun ketiga, barulah perusahaan menerima keuntungan penjualan. Bisa disimpulkan bahwa dengan metode ini keuntungan akan diperoleh dalam  jangka panjang.

c. Metode Perhitungan Kuantitatif (Quantitative models) 
    Metode ini menggunakan sistem perhitungan statistik dengan mengolah data yang dimasukkan dalam komputer dengan teknik analisis regresi berganda (multiple regression analysis). Metode ini jarang digunakan karena kompleks dalam pemakaiannya.

Alokasi Anggaran
    Pengalokasikan anggaran diartikan sebagai melakukan pembagian dana secara sistematis berdasarkan keseluruhan anggaran yang dimiliki perusahaan untuk melangsungkan program tersebut. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pengalokasian anggaran mencakup potensial pasar, ukuran dan segmen pasar, kebijakan perusahaan, skala ekonomi periklanan, dan karakteristik perusahaan.

3. Perkiraan Penerimaan Negara
    Secara garis besar, penerimaan negara dikelompokkan menjadi 2,yakni:

Penerimaan Dalam Negeri
   Penerimaan dalam negeri untuk awal tahun setelah masa pemerintahan Orde Baru masih menggantungkan pada penerimaan dari ekspor minyak bumi dan gas alam. Namun lambat laun,harga minyak tidak stabil, maka mulai disadari bahwa ketergantungan terhadap penerimaan sektor migas perlu dikurangi. Untuk mengatasi hal ini,maka Pemerintahan mengeluarkan beberapa kebijakan, diantaranya:


a.  Deregulasi Bidang Perbankan
    Mengurangi peran dari Bank Sentral dalam menentukan suku bunga deposito dan pinjaman sendiri. Dan  
mengalihkan peran tersebut kepada Bank Pemerintah ataupun Swasta. Dampak dari deregulasi adalah meningkatnya tabungan masyarakat.
b. Deregulasi bidang perpajakan (UU baru, 1 Januari 1984 untuk memperbaiki penerimaan Negara.

Penerimaan Pembangunan
    Meskipun telah ditempuh berbagai upaya untuk meningkatkan tabungan pemerintah,namun karena laju pembangunan yang demikian cepat,maka dana tersebut masih perlu dilengkapi dengan dan ditunjang dengan dana yang berasal dari luar negeri.Meskipun untuk selanjutnya bantuan luar negeri ( hutang bagi Indonesia ) tersebut makin meningkatnya jumlahnya,namun selalu diupayakan suatu mekanisme pemanfaatan dengan prioritas sektor-sektor yang lebih produktif.Dengan demikian bantuan luar negeri tersebut dapat dikelola dengan baik (terutama dalam hal pengembalian cicilan pokok dan bunganya).

4. Perkiraan Pengeluaran Negara
    Secara garis besar, pengeluaran negara dibagi 2 kelompok, yakni:

Pengeluaran Rutin Negara
   Merupakan pengeluaran yang rutin terjadi dan telah terencana sebelumnya. Pengeluaran rutin negara terdiri dari:
a.  Pengeluaran unutk belanja pegawai.
b.  Pengeluaran untuk belanja barang.
c.  Pengeluaran untuk subsidi daerah otonom.
d.  Pengeluaran utnuk membayar bunga  dan cicilan hutang.

Pengeluaran Pembangunan
   Secara garis besar yang termasuk dalam pengeluaran pembangunan, yakni:


a.   Pengeluaran pembangunan untuk berbagai departemen atau lembaga negara.
      Diantaranya untuk membiayai proyek-proyek pembangunan nasional yang menjadi tanggung jawab  masing-masing departemen negara yang bersangkutan.
b. Pengeluaran pembangunan untuk anggaran pembangunan daerah (Dati I dan Dati II)

5. Dasar Perhitungan Perkiraan Penerimaan Negara





    Untuk memperoleh hasil perkiraan penerimaan negara, ada beberapa hal pokok yang perlu diperhatikan
, diantaranya:


Penerimaan Dalam Negeri dari Migas
Faktor-faktor yang dipertimbangkan adalah:
a. Produksi minyak rata-rata per hari.
b. Harga rata-rata ekspor minyak mentah.

Penerimaan Dalam Negeri Di Luar Migas
Faktor-faktor yang dipertimbangkan adalah:
a. Pajak penghasilan
b. Pajak pertambahan nilai
c. Bea masuk
d. Cukai
e. Ekspor
f.  Pajak bumi dan bangunan
g. Bea materai
h. Pajak lainnya.
i. Penerimaan bukan pajak.
j. Penerimaan dari hasil penjualan BBM


Sumber:








Jumat, 04 Mei 2012

BAB 5 & 6 Struktur Produksi, Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan

1. Struktur Produksi
    Menjelaskan Arti GDP sebagai indikator kemakmuran ekonomi dengan berbagai kelemahan   
    dan kelebihannya.
    Pada dasarnya GDP(Gross Domestik Bruto)  merupakan sebagai nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi di dalam wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu (biasanya per tahun). PDB berbeda dengan PNB, PDB memperhitungkan total produksi didalam suatu negara tanpa memperhitungkan asal usul faktor produksinya. PDB dibagi menjadi 2 yakni PDB nominal dan PDB riil. PDB nominal merujuk pada nilai PDB tanpa mempengaruhi pengaruh harga. Sedangkan PDB riil mengoreksi angka PDB nominal dengan memasukan pengaruh dari harga.GDP hanya mencakup barang dan jasa akhir, yaitu barang dan jasa yang dijual kepada pengguna yang terakhir.

Perhitungan PDB dillakukan dengan pendekatan:

Pengeluaran
PDB = konsumsi + investasi + pengeluaran pemerintah + (ekport - import)

Pendapatan
PDB = sewa + upah + bunga +laba

Perlu diketahui bahwa GDP menjadi indikator dalam mengukur kemakmuran di suatu negara dikarenakan menghitung total penjualan dalam suatu negara. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan jika saja persentase GDP naik dari tahun yang sebelumnya dengan data pada periode sebelumnya maka nilai mata uang negara yang bersangkutan cenderung mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan karena GDP menggambarkan nilai seluruh transaksi suatu negara secara umum. Jika siklus transaksi perekonomian stabil maka dapat dipastikan perekonomian akan berjalan lancar. Pernyataan ini dapat memicu kenaikan nilai mata uang lokal.


Kelemahan PDB,diantaranya:
-  PDB hanya mencatat pendapatan dalam satu periode.PDB tidak mencatat akumulasi 
    kekayaan individu dalam waktu bertahun tahun. Akumulasi kekayaan individu itu antara lain  
    masuk kedalam sistem perbankan sebagai tabungan .Kemudian oleh Bank dipinjamkan 
    kepada pihak lain, dan yang hanya dicatat oleh PDB adalah bunga yang dibayarkan.
-  Ketidakmerataan rumah tangga dalam mengakumulasikan modal.

Maka terlihat jelas bahwa konsep GDP tidak bisa menggambarkan kesejahteraan  secara jelas. GDP hanya memperhitungkan keseluruhan penjualan dalam suatu negara.

2. Pendapatan Nasional
    Pendapatan nasional merupakan adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh seluruh Rumah Tangga 
Konsumen di suatu negara dalam suatu periode.

Pendapatan Nasional dapat dihitung dalam 3 pendekatan, diantara lain:
Pendekatan Produksi (GDP)
   Pendekatan produksi merupakan pendapatan yang bersal dari penggunaan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan suatu komoditi. Pendekatan ini memiliki kelemahan yaitu timbulnya double counting. Double Counting merupakan nilai produk sebelumnya ditambahkan dengan produk-produk turunanberikutnya dan digunakan sebagai nilai akhir dan nilai akhir tersebut menjadi lebih tinggi dan tidak mencerminkan keadaan yang sesungguhnya.  
Yield = (P1 x Q1) + (P2 x Q2) + .... .....+ (Pn xQn)

Pendekatan Pengeluaran (GNP)
   Perhitungan pendapatan dengan melihat pengeluaran yang dilakukan oleh setiap rumah tangga dalam suatu negara.
Yield = C + I + G + (X - M )

Pendekatan Pendapatan (NI)
   Pendekatan yang mengarah pada penerimaan atas penggunaan faktor-faktor produksi.
Yield = r + w + i + p
  
Pendapatan Nasional Yang Siap Dibelanjakan (Y Disposible)
    Merupakan pendapatan nasional yang siap dibelanjakan. Dirumuskan:
    
Y disposible + Ni + Tr - Txlangsung
    
    Tr = Goverment transfer / Subsidi pemerintah
    Tx = Pajak langsung


Pendapatan Nasional Per Kapita
    Pendapatan nasional per kapita biasanya digunakan sebagai indikator terakhir dalam melihat kemajuan perekonomian di suatu negara. Pendapatan perkapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah penduduk negara tsb.

3. Distribusi Pendapatan Nasional dan Kemiskinan
    
Distribusi Pendapatan
   Distribusi pendapatan merupakan sebuah konsep yanng luas karena tidak hanya menganalisa populasi yang berada dibawah garis kemiskinan.
Indikatornya adalah:

Kurva Lorenz
Memperlihatkan hubungan kuantitatif aktual antara persentase jumlah penduduk penerima pendapatan tertentu dari total penduduk dengan persentase pendapatan yang benar-benar mereka peroleh dari  total pendapatan selama jangka waktu tertentu.

    Garis diagonal merupakan garis yang menunjukan keadaan pemerataan pendapatan yang sempurna dallam distribusi pendapatan. Semakin jauh jarak kurva lorenz dari garis diagonal ,maka tingkat pemerataan pendapatan semakin timpang (tidak merata). Kasus ektrim ini dimana hanya ada satu orang saja yang menerima seluruh distribusi pendapatan, sementara orang-orang lainnya sama seali tidak menerima pendapatan tsb akan diperlihatkan oleh titik kurva lorenz yang berhimpit dengan suumbu horizontal sebelah kiri bawah atau kanan atas.

Koefisien Gini Ratio
   Koefisien Gini Ratio berkaitan dengan kurva lorenz. Karena koefisien Gini merupakan formula yang menghitung rasio luas bidang antara garis diagonal dan kurva lorenz. Jika angka koefisien Gini mendekati 0,maka distribusi pendapatan semakin merata, sebaliknya jika mendekati angka 1, maka distribusi pendapatan semakin tidak merata. Kriteria koefisien Gini:
-  Gini Ratio<0,4 = tingkat ketimpangan rendah
-  0,4 < Gini ratio < 0,5 = tingkat ketimpangan moderat.
-  Gini ratio >0,5 = tingkat ketimpangan tinggi


Kemiskinan
Kemiskinan merupakan kebutuhan hidup seperti makanan,minuman,pakaian,rumah.dll.Penyebab kemiskinan adalah keterbatasan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.
Penyebab kemiskinan,diantaranya dihubungkan dengan:
-  Penyebab individual/psikologis yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku,pilihan atau 
    kemampuan .
-  Penyebab dari keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga.
-  Penyebab sub-budaya yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari dan  
   dijalankan dalam lingkungan sekitar.
-  Penyebab agensi ,yang melihat kemiskinan sebagai dari aksi orang lain, termaksud perang,
    pemerintahan,dan 
    ekonomi.
-  Penyebab struktural ,yang memberikan alasan kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial.


Sumber:

Kamis, 05 April 2012

BAB 4 Peta Perekonomian Indonesia

1.   Keadaan Geografis Indonesia.
     Indonesia merupakan negara kepulauan, yang terdiri sekitar 17.504 pulau. Pulau-pulau di Indonesia sebagian besar bertanah subur dan kaya akan keindahan alamnya. Jika kita memanfaatkan dan mengolahnya dengan baik ini akan menjadi sebuah kekuatan bagi Indonesia untuk membangun perekonomian menuju kearah yang lebih baik lagi. Didukung dengan Sumber Daya Manusia yang tinggi dalam pengolahannya bisa menghasilkan komoditi bernilai tinggi baik di perdagangan pasar lokal,maupun di Internasional. Ini seharusnya bisa menjadi sumber penerimaan kita yang utama.Tapi dalam kenyataannya tidak. Hal ini juga bisa menjadi ancaman bagi Indonesia karena banyak orang luar masuk secara ilegal mengambil sumber daya alam kita,dan menguasai pasar karena mereka lebih memiliki teknologi yang canggih dalam menghasilkan sebuah komoditi yang lebih bernilai.
      Secara astronomis,Indonesia memiliki iklim tropis. Iklim tropis bersifat panas menyebabkan Indonesia memiliki 2 musim,yakni musim kemarau dan penghujan. Sifat panas ini juga mengundang banyak curah hujan. 
Hal ini sangat mempengaruhi karakteristik dari komoditi. Sehingga diperlukan kemampuan untuk tetap mempertahankan agar tetap laku dipasaran lokal maupun dunia.
     Indonesia kaya akan barang tambang,pernah dibuktikan oleh sejarah. Sebagai contoh minyak bumi yang pernah menjadikan Indonesia memperoleh dana pembangunan yang sangat besar. Dan menjadi sumber utama devisa negara.

2.    Mata Pencaharian
      Mata pencaharian sebagian besar penduduk Indonesia, mengarah ke sektor bercocok tanam,seperti pertanian dan perkebunan. Dikarenakan tanah Indonesia yang subur  dengan mengandung banyak mineral didalamnya mendorong masyarakat Indonesia mengelola dan memanfaatkan alam sebagai mata pencahariannya. Namun saat ini lahan yang tersisa untuk bercocok tanam sudah terbatas, karena mulai diadakan pembangunan perumahan. Sedangkan mata pencaharian penduduk daerah perkotaan lebih mengarah ke pembangunan, perindustrian, dan sebagainya. Daerah perkotaan dianggap lahan sumber mata pencaharian dengan penghasilan yang lebih tinggi. Dan didaerah perkotaan terdapat banyak peluang kerja. Sehingga banyak  penduduk dari pedesaan yang tadinya bekerja sebagai petani dan sebagainya bertransmigrasi ke daerah perkotaan demi mendapat pekerjaan yang penghasilannya lebih menjanjikan.

3.  Sumber Daya Manusia
     Sumber daya manusia merupakan potensi yang terkandung dalam  diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupannya.
       Sebagai negara berkembang Indonesia memiliki masalah, seperti:

Laju Pertumbuhan Penduduk
      Pertumbuhan penduduk yang tinggi akan menimbulkan banyak masalah bagi negara, jika tidak diikuti dengan peningkatan produksi,dan penambahan lapangan pekerjaan, dan sebagainya. Pertumbuhan penduduk yang tinggi lebih mengarah kepada pengangguran yang dikarenakan penuhnya lapangan pekerjaan atau sumber daya manusia (SDM) yang kurang produktif, akibatnya akan menimbulkan masalah-masalah sosial yang rumit. Langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengatasi hal ini adalah:
  • Pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB)
  • Meningkatkan sumber daya manusia dengan pendidikan formal (wajib belajar 9tahun) atau pendidikan informal.
Penyebaran Penduduk
     Penyebaran penduduk yang tidak merata menyebabkan ketidak seimbangan antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya, terdapat daerah kaya dan daerah miskin. Daerah yang menguntungkan akan menjadi serbuan dari daerah miskin




Angkatan Kerja
     Komposisi penduduk yang tidak seimbang dapat menimbulkan kegiatan produksi yang tidak lancar. Dengan demikian perlu diadakan tindakan untuk mempersiapkan tenaga kerja muda Indonesia dengan pendidikan formal maupun dengan informal. Langkah Pemerintah untuk hal ini,yakni:
  • Meninjau kembali sistem pendidikan di Indonesia yang masih bersifat umum, untuk lebih disesuaikan dengan disiplin ilmu khusus yang lebih sesuai dengan tuntutan pembangunan. Sehingga menghadirkan lulusan yang siap kerja dan terlatih.
  • Menciptakan sarana dan prasarana yang mendukung langkah pertama.

4.    Investasi
     Untuk memperoleh suatu pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam proses pembangunan di Indonesia, terkumpulnya modal dan sumber daya sebagai investasi menjadi suatu peranan penting. Dalam kondisi tertentu masih sulit untuk mendapatkan dana investasi dari masyarakat. Untuk itulah pemerintah memerlukan dana yang besar dari selisih penerimaan dan pengeluaran. Namun pemerintah tidak dapat terus menerus mengandalkan tabungan pemerintah. Maka diperlukan upaya-upaya untuk memenuhi kebutuhan dana investasi pembangunan, diantaranya:
  • Lebih mengembangkan ekspor komoditi non-migas.
  • Mengadakan pinjaman luar negeri dengan syarat yang mudah.
  • Menciptakan suasana dan proses investasi yang menarik dan aman bagi para pemodal asing.

Sumber:

Rabu, 04 April 2012

BAB 3 Perkembangan Strategi Dan Perencanaan Pembangunan Ekonomi Indonesia



1.   Strategi Pembangunan Ekonomi

      Strategi pembangunan adalah merupakan suatu cara untuk mencapai Visi dan Misi  yang dirumusankan dalam bentuk strategi sehingga dapat meningkatan kinerja. Kinerja sangat dipengaruhi oleh bagai mana suatu organisasi (pemerintah)  menerima sukses atau mengalami kegagalan dari suatu misi organisasi pemerintah. Stategi pembangunan ekonomi, meliputi:

Strategi Pertumbuhan Ekonomi
      Inti dari konsep strategi pertumbuhan ini adalah
  • Pembangunan ekonomi sutau negara akan terpusat pada upaya pembentukan modal, serta bagaimana menanamkannya secara seimbang, menyebar, terarah dan memusat. Sehingga dapat terwujudnya pertumbuhan ekonomi.
  • Selanjutnya bahwa pertumbuhan ekonomi akan dinikmati oleh golongan lemah melalui proses merambat kebawah (trickle-down-effect) pendistribusian kembali.
  • Kemerataan merupakan syarat terjadinya pertumbuhan ekonomi.
  • Kritik paling keras dari strategi paling pertama ini adalah bahwa pada kenyataan yang terjadi adalah kemerataan yang semakin menonjol.
Strategi Pembangunan dengan Pemerataan.
   Inti dari konsep strategi ini adalah dengan ditekankannya peningkatan pembangunan melalui teknik sosial engineering, seperti halnya melalui penyusunan perencanaan induk, dan paket program terpadu.

Strategi Ketergantungan
    Ketidaksempurnaan konsep strategi yang pertama dan yang kedua mendorong para ahli ekonomi mencari alternatif lain,sehingga pada tahun 1965muncul strategi pembangunan dengan nama strategi ketergantungan. 
Inti dari konsep strategi pembangunan ini adalah:
  • Kemiskinan di negara-negara berkembang dikarenakan adanya ketergantungan negara lain. Oleh karena itu ika suatu negara ingin terbebas dari kemiskinan dan menuju tahapan ke negara maju, harus melepaskan diri dan tidak ketergantungan terhadap negara lain. Langkah yang dapat diambil, antara lain meningkatkan produksi nasional yang lebih bernilai dan mencintai produk dalam negeri.
Strategi Berwawasan Ruang
    Dikemukakan oleh Myrdall dan Hirschman yang menjelaskan sebab-sebab yang membuat lambat daerah miskin untuk berkembang. Hal tersebut dikarenakan adanya SDM yang rendah pada daerah miskin sehingga menyebabkan adanya ketidakseimbangan antara daerah miskin dan daerah kaya.

Strategi Pendekatan Kebutuhan Pokok
  Tujuan dari strategi ini adalah mengurangi kemiskinan. Pendapatan di Indonesia relatif rendah akibat banyaknya pengangguran yang mengakibatkan kebutuhan pokok mereka tidak dapat.terpenuhi. Solusinya adalah menciptakan lapangan pekerjaan, dibangunnya industri padat karya, dan swasembada pangan.


2.   Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Strategi Pembangunan.
  Pemilihan strategi dalam proses pembangunan disesuaikan dengan "Tujuan apa yang ingin dicapai?".Contoh,jika tujuannya ingin mengurangi kemiskinan maka strategi yang dipakai adalah strategi pendekatan kebutuhan pokok.
      Faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pembangunan,diantaranya:
  • Sumber daya alam.
  • Jumlah dan kualitas penduudk.
  • Modal.
  • Sikap dan mental masyarakat.
3.    Strategi Pembangunan Ekonomi Indonesia
     Sebelum orde baru, strategi pembangunan Indonesia telah diarahkan ke pertumbuhan ekonomi tapi kenyataan malah lebih memusatkan pada tujuan-tuuan politik,sehingga tuujuan pembangunan terabaikan. Sedangkan awal orde baru difokuskan kepada perbaikan kondisi ekonomi terutama untuk menekan lajunya inflasi yang tinggi. Indonesia tidak pernah mencoba beberapa strategi pembangunan.
Strategi srategi dipertegas dengan ditetapkanny sasaran dan menitikberatkan pada setiap replika:

Repelita I
Menitikberatkan pada sektor pertanian dan industri yang mendukung sektor pertanian.

Repelita II
Menitikberatkan pada sektor pertanian dengan meningkatkan industri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku.

Repelita III
Menitikberatkan pada sektor pertanian menuju swasembada pangan dan masih meningkatkan industri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku.

Repelita IV
Menitikberatkan pada sektor pertanian untuk melanjutkan usaha-usaha menuju swasembada pangan dengan menigkatkan industri yang dapat memproduksi mesin-mesin sendiri.

4.   Perencananaan Pembangunan
      Manfaat dari perencanaan pembangunan,diantaranya:

  • Dapat melakukan penyusunan skala prioritas.
  • Perencanaan memberikan kesempatan memilih alternatif mengenai cara yang terbaik.
  • Dapat digunakan sebagai alat ukur untuk mengadakan pengawasan dan evaluasi.
  • Penggunaan dan alokasi sumber-sumber pembangunan yang terbatas dapat berjalan secara efisien dan efektif.
Periode prencanaan pembangunan dibagi dalam 2, diantaranya:

Periode Sebelum Orde Baru
  • Periode 1945-1950
  • Periode 1951-1955
  • Periode 1956-1960
  • Periode 1961-1965
Periode Setelah Orde Baru
  • Periode Replita I          :  1969/70 - 1973/74
  • Periode Replita II         :  1974/75 - 1978/79
  • Periode Replita III       :  1979/80 - 1983/84
  • Periode Replita IV       :  1984/85 - 1988-89
  • Periode Replita V        :  1989/90 - 1993/94

Sumber :